Tuesday, 12 May 2026
logo

Berita

Berita Utama

Nurchaeti dan Jalan Panjang Keripik Pisang hingga Menembus Pasar Dunia

-

00.05 12 May 2026 27

Nurchaeti dengan usaha keripiknya yang sudah mendunia.

Jakarta, KP2MI (12/5) - Bagi Nurchaeti, bekerja di luar negeri bukanlah mimpi masa kecil yang ingin diwujudkan. Keputusan itu lahir dari keadaan hidup yang memaksanya bertahan.

Perempuan asal Jakarta itu memutuskan menjadi pekerja migran pada 2010 setelah bercerai dari suaminya. Saat itu, tuntutan ekonomi membuatnya harus meninggalkan dua anaknya yang masih kecil demi mencari nafkah di negeri orang.

Dengan rekomendasi dari perusahaan farmasi tempatnya bekerja, Nurchaeti berangkat ke Malaysia. Dua tahun kemudian, ia melanjutkan pekerjaannya ke Singapura di perusahaan yang sama.

Namun, selama bekerja di luar negeri, ada rasa yang terus menghantuinya: rasa bersalah karena tak bisa mendampingi anak-anaknya tumbuh besar.

“Alasan saya pulang adalah karena anak-anak saya. Sebagai seorang ibu saya merasa bersalah karena tidak bisa ada di samping mereka saat mereka membutuhkan,” kata

Nurchaeti mengenang masa-masa itu.
Pada 2013, setelah merasa cukup untuk melunasi utang-utangnya, ia memutuskan pulang ke Indonesia. Keputusan itu menjadi titik balik hidupnya.

Dengan modal kurang dari Rp10 juta, Nurchaeti memulai usaha laundry kecil di rumahnya. Usaha itu menjadi penopang hidup bagi dirinya dan kedua anaknya yang saat itu masih berusia tiga dan lima tahun.

Di tengah perjuangan membangun hidup baru, hubungan Nurchaeti dengan sesama purna pekerja migran tetap terjalin erat. Dari jaringan pertemanan itulah jalan baru terbuka.

Pada 2014, seorang rekannya sesama purna pekerja migran mengajaknya mengikuti pelatihan yang diselenggarakan BP2MI — saat itu masih bernama BNP2TKI — di Bogor.

Pelatihan pertamanya adalah membuat pastry. Dari sana, ia mulai aktif mengikuti berbagai pelatihan keterampilan lain. Salah satu yang kemudian mengubah hidupnya adalah pelatihan membuat keripik pisang.

Berbekal ilmu pelatihan dan percobaan yang dilakukan berkali-kali di rumah, Nurchaeti mulai menjual keripik pisang buatannya sendiri. Ia terus bereksperimen mencari rasa yang pas sebelum akhirnya menemukan produk yang diterima pasar.

Usahanya perlahan tumbuh. Ia mulai rutin mengikuti berbagai pameran produk purna pekerja migran yang difasilitasi pemerintah.

Kesempatan besar datang pada 2024 ketika Nurchaeti mengikuti pameran produk di Brunei Darussalam. Dari sana, produk keripik buah miliknya mulai menarik perhatian investor.

Investor asal Brunei kemudian menawarkan kerja sama untuk memperluas bisnisnya ke pasar internasional. Tawaran itu diterima Nurchaeti. Investor tersebut bahkan datang langsung ke Indonesia untuk melihat pabrik produksi keripik buah miliknya.

Seiring berkembangnya usaha, produk yang dijual tak lagi hanya keripik pisang. Nurchaeti mulai memproduksi keripik nangka, nanas, hingga salak.

Jaringan yang ia bangun selama menjadi pekerja migran turut membantunya membuka akses pasar di luar negeri. Produk keripik buah buatannya kini dipasarkan ke sejumlah negara di Asia seperti Singapore, Malaysia, Vietnam, hingga kawasan Timur Tengah dan Eropa.

Menurut Nurchaeti, dukungan pemerintah juga berperan dalam perkembangan usahanya, terutama dalam proses sertifikasi halal dan akses jejaring perdagangan internasional.

“Sertifikat halal saya dapat dengan bantuan BP2MI juga waktu itu,” ujarnya.

Kini, usaha yang bermula dari pelatihan sederhana itu berkembang menjadi perusahaan bernama PT BFF Royal Food Internasional.
Perusahaannya mampu mengirim dua hingga lima kontainer keripik buah ke luar negeri setiap bulan, dengan omzet mencapai ratusan juta rupiah.

Tak hanya mengubah hidupnya sendiri, usaha tersebut juga membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Nurchaeti kini bermitra dengan sekitar 250 pekerja lepas di pabrik produksi yang berada di Malang dan Karawang, serta mempekerjakan sejumlah staf administrasi di Jakarta.

Bagi Nurchaeti, menjadi pekerja migran hanyalah bagian dari perjalanan hidup, bukan tujuan akhir.
Ia percaya, para pekerja migran juga bisa membangun masa depan ketika kembali ke tanah air, selama memiliki semangat dan keberanian untuk memulai.

“Bekerja di luar negeri tidak selamanya. Pada akhirnya kita akan pulang ke Indonesia juga. Tetap semangat dan fokus, semoga kita bisa berkontribusi terbaik untuk negara kita.” bilangnya. **(Humas)