Thursday, 7 May 2026
logo

Berita

Berita Utama

Menteri Mukhtarudin dan Kompas TV Perkuat Optimisme Penempatan Pekerja Migran di Tengah Tantangan Global

-

00.05 7 May 2026 17

Menteri Mukhtarudin dan Kompas TV Perkuat Optimisme Penempatan Pekerja Migran di Tengah Tantangan Global

Jakarta, KemenP2MI (7/5) - Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, menerima audiensi jajaran pimpinan redaksi Kompas TV di Kantor KP2MI, Jakarta, Kamis 7 Mei 2026.

Dalam pertemuan tersebut, Menteri Mukhtarudin memaparkan transformasi besar instansi yang dipimpinnya serta visi strategis dalam mengelola tenaga kerja migran Indonesia di masa depan.

Hadir dalam audiensi tersebut Pemimpin Redaksi Kompas TV Yogi Arief Nugraha, Wakil Pemimpin Redaksi Alexander Wibisono, News Network Manager Bimo Cahyo Saputro, serta jajaran manajemen Kompas TV.

Transformasi Menjadi Kementerian dan Fokus Perlindungan

Dalam penjelasannya, Menteri Mukhtarudin menekankan bahwa perubahan status dari Badan menjadi Kementerian merupakan bentuk komitmen kuat Presiden Prabowo dalam memperkuat pelindungan pekerja migran. Ia mengungkapkan bahwa saat ini pemerintah menggunakan formula 60-40 dalam kebijakan penempatan.

"Energi kita itu 60% untuk pelindungan dan 40% untuk penempatan. Kita lebih baik menempatkan dalam jumlah yang secara kuantitas mungkin tidak meledak, tetapi kualitasnya baik (skilled worker). Dengan kualitas yang baik, pelindungan jauh lebih gampang karena ada korelasi antara kompetensi dengan keamanan bekerja," ujar Mukhtarudin.

Menteri P2MI Mukhtarudin mengatakan  masalah Pekerja Migran seringkali muncul pada sektor informal karena rendahnya SDM. Oleh karena itu, KP2MI kini fokus memperkuat kapasitas calon pekerja sejak masa pra-penempatan, mulai dari penguasaan bahasa, keterampilan teknis, hingga mentalitas.

Rebranding: Bukan Lagi 'Pembantu Rumah Tangga'

Salah satu poin penting yang disampaikan adalah upaya rebranding terhadap citra Pekerja Migran Indonesia (PMI). Mukhtarudin menegaskan bahwa paradigma lama yang identik dengan asisten rumah tangga kini mulai bergeser ke sektor-sektor strategis.

"Kami sedang melakukan rebranding Pekerja migran kita sekarang sudah naik kelas. Ada yang bekerja di aerospace industry, industri pertahanan di Korea yang mengerjakan pesawat tempur, hingga tenaga engineering. Kita ingin masyarakat melihat Pekerja Migran sebagai profesi yang membanggakan dan memiliki keahlian tinggi," tegas Menteri P2MI Mukhtarudin.

Menghadapi Tantangan Demografi dan Gap Tenaga Kerja

Menteri Mukhtarudin juga menyoroti fenomena aging population di negara maju yang menjadi peluang bagi Indonesia yang sedang menikmati bonus demografi. Namun, ia mencatat adanya gap yang cukup besar antara permintaan (demand) dan ketersediaan tenaga kerja yang kompeten (supply).

"Data SISKOPMI menunjukkan ruang kerja luar negeri mencapai ratusan lebih. Namun, suplai kita baru bisa mengisi sekitar 20% karena kendala kompetensi. Untuk itu, Presiden mencanangkan target besar pada 2026-2029 untuk mencetak tenaga kerja global," beber Menteri.

Peran Media Sebagai 'Mata dan Telinga'

Pemimpin Redaksi Kompas TV, Yogi Arief Nugraha, menyatakan komitmennya untuk membangun sinergi positif dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI). 

Dalam audiensi tersebut, Yogi menegaskan bahwa Kompas TV siap mendukung langkah pemerintah melalui penyebaran informasi yang edukatif dan kredibel, terutama dalam memberantas isu pekerja migran ilegal yang sering kali merugikan masyarakat.

Yogi menyampaikan bahwa kekuatan jaringan Kompas TV yang tersebar di 31 biro di seluruh provinsi Indonesia dapat menjadi kanal strategis untuk mensosialisasikan kebijakan kementerian hingga ke pelosok daerah. 

Dengan adanya studio dan karyawan lokal di setiap wilayah, Kompas TV mampu meliput dan mengawal kegiatan Menteri P2MI secara komprehensif, baik di pusat maupun di daerah terluar seperti Sorong dan wilayah lainnya.

"Kami memiliki 31 biro di seluruh provinsi yang siap mendukung kegiatan Bapak Menteri. Sinergi ini penting, terutama untuk mengedukasi masyarakat agar terhindar dari jalur keberangkatan ilegal. Kami berkomitmen untuk terus menyuarakan narasi yang optimis namun tetap kritis sebagai bagian dari peran media," ungkap Yogi.

Dukungan ini disambut baik oleh Menteri Mukhtarudin yang berharap media dapat menjadi jembatan informasi agar calon pekerja migran memahami pentingnya kapasitas dan kompetensi sebelum bekerja ke luar negeri.

Lebih lanjut, Yogi menilai masyarakat Indonesia memiliki ketahanan mental yang unik dalam menghadapi tekanan geopolitik, seperti ketegangan di Selat Hormuz yang kerap memicu fluktuasi pasar.

Menurutnya, alih-alih terpuruk dalam pesimisme, masyarakat dan pelaku pasar justru menunjukkan sikap tenang, ditambah dengan adanya efek psikologis positif dari euforia ajang Piala Dunia di Amerika yang sedikit mengalihkan tensi ketegangan dunia.

"Kami memilih untuk tetap optimis, karena dengan optimisme kita memiliki dasar untuk terus berupaya dan bergerak maju di dunia usaha," imbuh Yogi.

Menteri Mukhtarudin menyambut baik dukungan tersebut dan menganggap media sebagai mitra strategis atau "mata dan telinga" pemerintah.

"Media adalah referensi bagi saya untuk menentukan kebijakan ke depan. Kami tidak anti-kritik. Justru isu yang tajam dan kritis membantu kami dalam pengawasan, terutama untuk mengedukasi masyarakat mengenai bahaya pekerja Migran ilegal yang sering kali menjadi sumber masalah karena berangkat tanpa prosedur resmi," pungkas Menteri P2MI Menteri Mukhtarudin.

Sinergi KP2MI dan Kompas TV diharapkan dapat memperkuat upaya rebranding pekerja migran Indonesia sebagai tenaga kerja terampil (skill workers) yang terlindungi secara sistematis oleh negara.** (Humas)