Mengupayakan Peningkatan Pasar TKI-LN
Deputi Kerjasama Luar Negeri (KLN) dan Promosi, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Ramli Sa’ud, menjelaskan bahwa tugas utama Deputi KLN dan Promosi adalah menyiapkan seperangkat kebijakan dalam rangka upaya peningkatan pasar Tenaga Kerja Indonesia Luar Negeri (TKI-LN).
“Saya jelaskan bahwa di dalam BNP2TKI ini ada 3 ke-Deputi-an. Pertama, Sestama. Kalau Sestama itu kalau di Departemen setingkat dengan Sekretaris Jenderal (Sekjen). Kemudian Deputi Kerjasama Luar Negeri (KLN) dan Promosi itu disebut juga Deputi Satu. Kenapa disebut Deputi satu, karena tugasnya adalah membuka pasar, cari pasar baru dan cari peluang. Lalu, dari mengenali pasar, membuka pasar, dapat peluang baru, kemudian kita melakukan promosi. Bentuk promosinya bermacam-macam. Bisa mengikuti fair internasional, bisa melalui promosi yang kita sendiri adakan, bertemu pejabat-pejabat atau pengusaha di luar negeri, dari situ kemudian kita membuat landasan hukum yang kuat, yang dalam konteks kerjasama luar negeri namanya Memorandum of Understanding (MoU)”, ujar Ramli Sa’ud kepada pers, saat ditemui di kantor BNP2TKI, Jakarta belum lama ini.
Menurut Ramli, kegiatan seperti itu tidak bisa sendiri. “Jadi kita ada kegiatan ke luar dan ke dalam. Kegiatan ke luar yang kita lakukan misalnya kita berkoordinasi dengan KBRI. Peluang mana dan apa. Lalu, dari situ kita coba untuk tindak ke dalam bentuk business meeting ataupun dalam bentuk kunjungan ataupun dalam bentuk ikut dalam fair internasional”
“Ke dalam, kita koordinasi secara horizontal dengan ke-Deputi-an yang lain, secara struktural dengan BP3TKI yang ada di daerah. Nah itu perlu kita lakukan karena kantong-kantong tenaga kerja adanya di daerah. Kita harus berkoordinasi dengan daerah, tidak bisa sendiri. Sekalipun juga, kita kerjasama dengan para PJTKI, yang mereka juga sudah menyiapkan orang-orangnya untuk dipromosikan”, paparnya.
Peluang kerja di luar negeri dari hasil observasi saya selama ini, peluang penempatan TKI di luar negeri baik formal dan informal itu saya melihat peluang nya besar. Masalahnya, kita harus merubah paradigma. Merubah paradigma adalah salah satu tuntutan nyata dengan terbentuknya Peraturan Daerah (Perda). Paradigma yang mau kita ubah, pertama, dengan peluang yang besar itu bagaimana kita merubah cara berpikir para PJTKI. Termasuk juga merubah pola berfikir para birokrat di lingkungan KLN dan Promosi termasuk BNP2TKI, bahwa yang namanya pasar itu jangan hanya pasar tradisional.
Pasar tradisional itu maksudnya adalah Arab Saudi, Abu Dhabi, Kuwait Bahrain, Malaysia, Taiwan dan Hongkong.
Pasar itu luas ada juga di Norwegia, Swedia, Finlandia, kemudian ada di Mediterania, Turki, Yunani, Spanyol, Itali. Ada juga di Australia, Selandia Baru, kemudian ada di Amerika Utara dan Kanada. Nah, saya mencoba arahkan mereka terus dengan pasar tradisional, tetapi saya menganjurkan juga agar mencoba dengan pasar baru yang non tradisional, itu satu paradigma baru”, katanya.
Ditambahkannya, kemudian yang kedua, mencoba mengalihkan pola berfikir dari pengiriman tenaga non formal ke yang formal, yang tidak skill menjadi skill. “Menurut saya, yang tidak skill teruskan saja tidak apa-apa, pengiriman tenaga kerja wanita (TKW) tidak apa-apa diteruskan, tenaga kerja non formal teruskan dikirim. Tetapi yang skill juga harus kita cari. Karena apa ? Remittance-nya itu 1 banding 6 atau 8, artinya satu tenaga skill Remittance atau upah yang diterima sama dengan 8 kali tenaga kerja non formal. Peluangnya ada, tetapi pola pikirnya yang harus kita ubah dan kita kejar yang skill ini. Pasar-pasar yang non tradisional, pasar baru kita sebutnya. Kemudian yang ketiga, paradigma yang mau kita tempuh, tenaga kerja itu jangan lagi diprioritaskan dengan wanita”’ jelasnya.
Keseimbangan gender itu harus ada. Nah selama ini kala kita hanya banyak memperhatikan wanita karena gampang. Paling gampang perempuan untuk kita jadikan TKW. Nah itu kita ubah. Sekarang kita lagi mencoba tenaga yang skill pasar yang baru dengan banyak menyerap tenaga kerja laki-laki, karena itu banyak menolong. Biar bagaimanapun juga laki-laki itu adalah kepala rumah tangga dibandingkan wanita, jelasnya, seraya mengatakan, kalau wanita apalagi dia single, Remittancenya hanya dia yang menikmati. “Walaupun bisa saja dikatakan TKW itu biaya untuk suaminya dan anaknya, bapaknya dan ibunya. Tetapi kalau laki-laki yang sudah berumah tangga, itu sudah pasti untuk anak istrinya”, ujarnya.
Tanggapan negara luar terhadap kinerja tenaga kerja Indonesia yang formal, menganggap kualitas kita setara dengan kemauan mereka. Saya sudah mencoba misalnya ke Australia dan Selandia Baru. Sudah coba di Afrika Selatan, di Arab Saudi, Malaysia, Polandia, termasuk ke Finlandia, saya sudah mencoba kesana. Lalu, katakanlah proses yang ada dibandingkan di Filipina, memang kita harus berani introspeksi. Berani introspeksi artinya salah satu penyebab kenapa kita tidak mampu memanfaatkan peluang pasar, selain pola berfikir tadi adalah kesiapan tenaga kerja Indonesia sendiri.
Pola berpikirnya harus sudah diubah, mindset orientasi yang non tradisional banyak, arahkan yang skill, gender yang laki-laki juga banyak. Tetapi juga dari segi lain, penyiapan tenaga kerja di dalam negeri belum seperti yang diharapkan oleh dunia internasional, itu yang pertama. Akibatnya, kita sering masih saling salah mengerti. Pernah saya ditanya, kita punya tenaga kerja yang cukup terampil, kenapa kita masih tidak bias masuk ke pasar Eropa. Nah saya jelaskan, bahwa keterampilan itu tidak hanya keterampilan teknis, tetapi juga keterampilan komunikasi terutama untuk sektor tenaga kerja yang memerlukan komunikasi, seperti bahasa asing, bahasa itu kendala kita”, tuturnya.
“Di masa lalu kendala mindset. Nah sekarang itu yang harus diubah dengan paradigma baru. Kendala bahasa adalah prosedur yang panjang. Menurut saya, BNP2TKI harus bisa membuktikan bahwa dengan dibentuknya badan, prosedur menjadi lebih singkat dan lebih cepat. Itu salah satu yang termaktub dalam Inpres Nomor: 6 Tahun 2006, bagaimana caranya kita melaksanakan Inpres itu dengan baik. Artinya kita harus berani melakukan introspeksi ke bawah, kekurangan kita dimana. Pembenahan-pembenahan harus ada. Tanpa itu, nanti istilahnya hanya sopirnya saja yang harus diganti. Tetapi mesinnya masih mesin lama. Mentalitasnya masih mentalitas lama, tidak akan banyak yang berubah”, imbuhnya.
(mur)
Sumber: Harian MADINA, 23 Juni 2008