Wamen Dzulfikar Dukung SMK Go Global, Banten Disiapkan Jadi Basis Pekerja Migran Profesional
-
Wamen Dzulfikar Dukung SMK Go Global, Banten Disiapkan Jadi Basis Pekerja Migran Profesional
Serang - Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indoneaia Dzulfikar Ahmad Tawalla mendorong percepatan program SMK Go Global untuk mencetak tenaga kerja vokasi yang siap bersaing di pasar internasional. Program ini juga diarahkan untuk menjadikan Provinsi Banten sebagai pusat ekosistem Pekerja Migran Indonesia profesional.
Hal itu disampaikan Dzulfikar dalam pertemuan bersama Gubernur Banten Andra Soni di Serang, yang turut dihadiri jajaran dinas terkait dan perwakilan DPRD pada Senin (13/4).
Menurut Dzulfikar, daerah harus mulai bertransformasi tidak hanya sebagai pengirim tenaga kerja, tetapi sebagai penghasil pekerja migran yang kompeten dan berdaya saing global.
"Transformasi ini penting agar pekerja migran kita tidak lagi didominasi sektor domestik, tetapi masuk ke sektor formal dengan keahlian yang diakui secara internasional," ujarnya.
Program SMK Go Global sendiri dirancang untuk meningkatkan kualitas lulusan vokasi agar mampu menembus pasar kerja luar negeri, khususnya di sektor formal seperti manufaktur, kesehatan, dan perhotelan.
Sementara itu, Gubernur Banten Andra Soni menilai provinsinya memiliki potensi besar untuk menjadi model nasional dalam pengelolaan pekerja migran.
"Kita harus memastikan warga Banten yang bekerja ke luar negeri memiliki keahlian yang diakui dunia. Banten bukan sekadar daerah pengirim, tapi bagian dari ekosistem PMI modern," katanya.
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah langkah strategis dibahas. Di antaranya penyesuaian kurikulum SMK dengan standar global, penguatan sertifikasi internasional, hingga integrasi data untuk perlindungan pekerja migran sejak sebelum berangkat hingga kembali ke tanah air.
Selain itu, pemerintah juga mendorong kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan untuk menciptakan sistem penempatan yang transparan dan aman.
Dzulfikar menegaskan, melalui program ini pekerja migran Indonesia diharapkan memiliki nilai tawar lebih tinggi di pasar global.
"Pekerja migran adalah patriot devisa. Kita ingin mereka berangkat dengan martabat karena keahlian yang dimiliki," pungkasnya.
Pertemuan tersebut ditutup dengan komitmen bersama untuk menyusun peta jalan integrasi pendidikan vokasi dengan sistem penempatan tenaga kerja internasional yang lebih terstruktur.*