Thursday, 28 May 2026
logo

Berita

Berita Utama

BP3MI Aceh dan RSUD Meuraxa Jajaki Kolaborasi Penguatan Kompetensi Calon Pekerja Migran Indonesia di Sektor Tenaga Kesehatan

-

00.05 25 May 2026 25

BP3MI Aceh perkuat sinergi dengan RSU Meuraxa untuk dukung peningkatan kapasistas calon Pekerja Migran Indonesia, Senin (4/5/2026).

Banda Aceh, KP2MI (25/5) - Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Aceh terus memperkuat sinergi lintas sektor dalam mendukung peningkatan kapasitas calon Pekerja Migran Indonesia, khususnya di sektor tenaga kesehatan. Upaya tersebut diwujudkan melalui pertemuan antara Kepala BP3MI Aceh, Siti Rolijah, bersama jajaran dengan Plt Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Meuraxa, Taufik Wahyudi Mahady, beserta tim pada Senin (4/5/2026).

Pertemuan yang berlangsung di RSUD Meuraxa tersebut turut dihadiri Direktur Poltekkes Kemenkes Aceh, Abdurrahman, sebagai bagian dari penguatan kolaborasi antar lembaga dalam mendukung penempatan PMI secara prosedural dan berdaya saing global.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan antara Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia dengan Wali Kota Banda Aceh terkait kesiapan sinergi dan kolaborasi peningkatan kapasitas calon Pekerja Migran Indonesia hingga penempatan Pekerja Migran Indonesia prosedural di wilayah Aceh.

Dalam pertemuan tersebut, Kepala BP3MI Aceh menyampaikan tugas dan fungsi BP3MI Aceh sebagai Unit Pelaksana Teknis Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), termasuk upaya pemetaan suplai calon Pekerja Migran Indonesia di sektor kesehatan, peluang kerja luar negeri, hingga kebutuhan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan asal Aceh.

“Kami berharap tenaga kesehatan, khususnya perawat asal Aceh, dapat difasilitasi untuk bekerja maupun magang di RSUD Meuraxa guna mendukung peningkatan pengalaman kerja yang saat ini menjadi salah satu kebutuhan utama dalam proses penempatan tenaga kesehatan ke luar negeri,” ujar Siti Rolijah.

Ia juga menyoroti bahwa selain kemampuan bahasa asing, pengalaman kerja masih menjadi tantangan dalam proses matching dengan pengguna (user) luar negeri.

“Untuk peningkatan kemampuan bahasa sebenarnya sudah mulai terfasilitasi melalui pelatihan maupun kelas internasional di sejumlah perguruan tinggi. Namun, pengalaman kerja bagi lulusan tenaga kesehatan masih perlu dukungan seperti melalui fasilitas pemagangan maupun praktik kerja,” tambahnya.

Selain membahas peningkatan kapasitas calon Pekerja Migran Indonesia, BP3MI Aceh juga mendorong RSUD Meuraxa untuk menjadi Sarana Kesehatan (Sarkes) pemeriksaan kesehatan calon Pekerja Migran Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Taufik menyampaikan dukungannya terhadap penguatan kapasitas tenaga kesehatan Aceh yang ingin bekerja di luar negeri.

“Pada prinsipnya RSUD Meuraxa siap mendukung peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, termasuk menjadi tempat pemagangan dan memberikan surat pengalaman kerja bagi lulusan yang akan melamar pekerjaan ke luar negeri,” ujar Taufik.

RSUD Meuraxa juga menyatakan kesiapan menjadi tempat pemeriksaan kesehatan calon Pekerja Migran Indonesia mengingat rumah sakit tersebut telah memenuhi persyaratan sebagai rumah sakit tipe B serta memiliki tenaga medis bersertifikasi, termasuk psikiater dan psikolog klinis.

Sementara itu, Direktur Poltekkes Kemenkes Aceh menyampaikan bahwa pihaknya menyambut baik peluang kerja sama tersebut sebagai bagian dari dukungan terhadap penyerapan lulusan di dunia kerja, baik di dalam maupun luar negeri.

“Kami memiliki tanggung jawab untuk memastikan alumni terserap di dunia kerja. Karena itu, peluang kolaborasi ini tentu menjadi langkah yang sangat positif,” ujar  Abdurrahman.

Melalui pertemuan ini, diharapkan terbangun sinergi berkelanjutan antara BP3MI Aceh, RSUD Meuraxa, dan lembaga pendidikan vokasi di bidang kesehatan dalam meningkatkan kualitas serta daya saing calon Pekerja Migran Indonesia asal Aceh, khususnya pada sektor tenaga kesehatan.* (Humas/BP3MI Aceh)