SMK Go Global Dimulai, 240 Peserta Asal Aceh Disiapkan Jadi Pekerja Migran Berdaya Saing Global
-
Kick Off Program SMK Go Global di Auditorium MIPA Universitas Syiah Kuala (USK) secara hybrid pada Rabu (26/8/2026).
Banda Aceh, KP2MI (28/8) - Sebanyak 240 peserta di Aceh mulai mengikuti Pelatihan Peningkatan Kapasitas Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) melalui Program SMK Go Global. Terdiri atas 12 kelas yang tersebar di 10 lokasi pelatihan, program ini menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi muda Aceh dengan kompetensi, keterampilan, dan kemampuan bahasa yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja global.
Pelaksanaan pelatihan ditandai dengan Kick Off SMK Go Global “Tingkatkan Kapasitas Pekerja Migran Indonesia, Tembus Panggung Dunia” yang dilaksanakan secara hybrid pada Rabu (26/8/2026) dan diikuti peserta dari berbagai lokasi pelatihan di seluruh Indonesia, salah satunya Aceh.
Sepuluh lokasi pelaksanaan pelatihan tersebut meliputi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bahasa Universitas Syiah Kuala (USK), SMKN 1 Karang Baru, SMKN 3 Karang Baru Aceh Tamiang, Universitas Samudra (UNSAM), BLK Aceh Utara, Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh, Pusat Bahasa UIN Ar-Raniry, Akademi Keperawatan Teungku Fakinah, SMKN 3 Banda Aceh, dan SMK PP Negeri Saree Aceh Besar.
Salah satu pelaksanaan Kick Off di Aceh berlangsung di Auditorium MIPA Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, yang merupakan salah satu mitra dalam penyelenggaraan Pelatihan Peningkatan Kapasitas CPMI.
Kegiatan di USK dihadiri oleh Kepala BP3MI Aceh Siti Rolijah, Wakil Rektor IV Universitas Syiah Kuala Ramzi Adriman, Staf Ahli Gubernur Aceh Bidang Keistimewaan Aceh, SDM dan Hubungan Kerja Sama Husnan yang hadir mewakili Gubernur Aceh, Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Mobilitas Penduduk Provinsi Aceh Akmil Husen, Kepala UPT Bahasa USK Kismullah, civitas akademika USK, serta peserta pelatihan.
Melalui pelaksanaan Kick Off secara daring, peserta di Aceh turut menyaksikan rangkaian peluncuran Program SMK Go Global secara nasional sekaligus memperoleh informasi mengenai arah program, penguatan kompetensi, kemampuan bahasa, keterampilan kerja, serta kesiapan menghadapi kebutuhan pasar kerja internasional.
Siapkan CPMI Kompeten Sejak dari Hulu
Kepala BP3MI Aceh, Siti Rolijah, mengatakan Program SMK Go Global menjadi bagian penting dalam membangun kesiapan calon pekerja migran sejak sebelum memasuki proses penempatan.
“Kita ingin anak-anak Aceh memiliki kompetensi, keberanian dan kesiapan untuk bersaing di tingkat global. Namun, kompetensi saja tidak cukup. Mereka juga harus memahami bagaimana bekerja ke luar negeri melalui jalur yang resmi, aman dan mendapatkan pelindungan negara,” ujar Siti.
Menurutnya, peningkatan kapasitas tidak hanya berkaitan dengan keterampilan teknis, tetapi juga mencakup penguasaan bahasa, pemahaman informasi kerja, kedisiplinan, etos kerja, serta pengetahuan mengenai prosedur penempatan dan pelindungan.
“Ketika generasi muda Aceh memilih bekerja ke luar negeri, mereka harus berangkat dengan kompetensi, informasi yang benar, serta pemahaman mengenai hak dan pelindungan sebagai Pekerja Migran Indonesia,” lanjutnya.
Siti menambahkan, keterlibatan berbagai lembaga pendidikan dan pelatihan dalam program tersebut menjadi langkah penting untuk memperluas akses pembekalan bagi generasi muda Aceh.
Dorong Generasi Muda Aceh Tembus Pasar Kerja Global
Staf Ahli Gubernur Aceh Bidang Keistimewaan Aceh, SDM dan Hubungan Kerja Sama, Husnan, yang hadir mewakili Gubernur Aceh, menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan Program SMK Go Global di Aceh.
“Pemerintah Aceh menyambut baik program ini karena sejalan dengan kebutuhan kita untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Aceh. Anak-anak muda Aceh harus diberikan kesempatan untuk mengembangkan kompetensinya dan memperoleh akses terhadap peluang kerja yang lebih luas,” ungkap Husnan.
Ia berharap sinergi lintas sektor tersebut dapat terus diperluas sehingga semakin banyak generasi muda Aceh yang memiliki keterampilan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
“Yang paling penting adalah bagaimana peluang kerja tersebut dapat diisi oleh tenaga kerja Aceh yang kompeten, profesional dan memiliki daya saing. Kolaborasi seperti ini harus terus kita dorong,” katanya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Mobilitas Penduduk Provinsi Aceh, Akmil Husen, menekankan pentingnya kesiapan tenaga kerja dalam menghadapi perubahan kebutuhan pasar kerja.
“Pasar kerja saat ini tidak lagi terbatas pada wilayah kita. Persaingan sudah bersifat global. Karena itu, anak-anak muda kita harus dipersiapkan sejak dini dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan industri dan kemampuan bahasa asing,” ujar Akmil.
Menurutnya, program SMK Go Global dapat menjadi jembatan antara dunia pendidikan, pemerintah, dan kebutuhan pasar kerja internasional.
“Kita ingin tenaga kerja Aceh tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi menjadi tenaga kerja yang memiliki kompetensi dan mampu memilih peluang kerja yang baik, legal dan memberikan masa depan,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Rektor IV USK, Ramzi Adriman, menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menjawab kebutuhan pasar kerja global.
“USK tidak hanya memiliki tanggung jawab mencetak lulusan untuk kebutuhan nasional, tetapi juga harus mampu menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan daya saing global. Karena itu, kolaborasi dengan BP3MI Aceh dalam SMK Go Global merupakan langkah yang sangat strategis,” kata Ramzi.
Ia menambahkan bahwa penguatan bahasa asing dan keterampilan kerja merupakan investasi penting bagi generasi muda Aceh.
“Bahasa adalah pintu masuk menuju dunia. Dengan penguasaan bahasa, keterampilan dan karakter kerja yang baik, anak-anak Aceh akan memiliki peluang yang lebih besar untuk menembus pasar kerja internasional,” ujarnya.
Komitmen kolaborasi tersebut turut diperkuat melalui penandatanganan Kesepakatan Kerja Sama (KKS) antara Universitas Syiah Kuala dan BP3MI Aceh, yang ditandatangani oleh Wakil Rektor IV USK Ramzi Adriman dan Kepala BP3MI Aceh Siti Rolijah.
Kesepakatan tersebut menjadi salah satu langkah konkret dalam memperkuat kolaborasi di bidang peningkatan kompetensi, penyebarluasan informasi peluang kerja luar negeri, serta penyiapan CPMI yang kompeten dan memahami prinsip migrasi aman.
Menteri P2MI Launching SMK Go Global
Pada rangkaian Kick Off secara nasional, Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Mukhtarudin, memberikan arahan sekaligus melakukan launching Program SMK Go Global.
Dalam arahannya, Menteri Mukhtarudin menegaskan bahwa pembangunan ekosistem ketenagakerjaan luar negeri harus dimulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Kita tidak ingin anak-anak muda Indonesia berangkat ke luar negeri hanya bermodalkan keberanian. Mereka harus berangkat dengan kompetensi, keterampilan, kemampuan bahasa dan pengetahuan yang cukup, sehingga mampu bersaing sekaligus mendapatkan pelindungan yang baik,” tegas Mukhtarudin.
Menteri Mukhtarudin juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, satuan pendidikan, dan seluruh pemangku kepentingan dalam menyiapkan generasi muda yang siap menghadapi pasar kerja global.
“Program SMK Go Global ini harus menjadi pintu bagi anak-anak kita untuk melihat dunia lebih luas. Kita siapkan mereka dari sekarang, kita tingkatkan kompetensinya, kita berikan informasi yang benar dan kita pastikan proses migrasinya berlangsung secara aman dan terlindungi,” ujarnya.
Pelaksanaan Kick Off SMK Go Global di Aceh menjadi momentum awal dimulainya pelatihan peningkatan kapasitas bagi 240 peserta dalam 12 kelas. Dengan dukungan berbagai lembaga pendidikan dan pelatihan di 10 lokasi, program ini diharapkan dapat memperluas akses generasi muda Aceh terhadap pembekalan kompetensi teknis, bahasa, dan informasi mengenai peluang kerja luar negeri.
Melalui kolaborasi tersebut, BP3MI Aceh bersama mitra pendidikan dan pemerintah daerah berkomitmen menyiapkan CPMI yang tidak hanya memiliki keterampilan kerja, tetapi juga memahami pentingnya proses migrasi yang aman, prosedural, dan terlindungi.
Dari Aceh menuju dunia, generasi muda dipersiapkan untuk bekerja secara kompeten, berangkat secara prosedural, dan terlindungi dalam setiap proses migrasi. **(Humas/BP3MI Aceh)