Negara Hadir Saat Nursiti Pulang Kembali ke Pelukan Keluarga di Musi Rawas
-
Petugas datangi kediaman keluarga Nursiti binti Badawi Dura, Minggu (5/7/2026)
Palembang, KP2MI (8/7) – Di rumah sederhana di Desa Marga Puspita, Kecamatan Megang Sakti, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, penantian panjang sebuah keluarga akhirnya berakhir. Namun, bukan pelukan hangat yang menyambut kepulangan Nursiti binti Badawi Dura, melainkan isak tangis yang mengiringi peti jenazahnya.
Selama hampir dua dekade, Kuwait menjadi tempat perempuan itu menaruh harapan. Jauh dari kampung halaman, ia bekerja sebagai penjaga toko, menjalani hari-hari yang tak mudah demi memastikan keluarganya di tanah air memiliki kehidupan yang lebih baik.
Tahun demi tahun berlalu, sementara kerinduan kepada keluarga terus dipendam di negeri yang berjarak ribuan kilometer dari Indonesia.
Tak seorang pun membayangkan bahwa kepulangannya justru menjadi perjalanan terakhir.
Nursiti meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas di Kuwait pada 23 Juni 2026. Kabar duka itu mengakhiri perjalanan panjang seorang pekerja migran Indonesia yang selama bertahun-tahun mengabdikan hidupnya di negeri orang.
Negara kemudian mengawal kepulangan terakhirnya. Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sumatera Selatan memastikan seluruh proses pemulangan jenazah berlangsung hingga tiba di rumah duka pada Minggu (5/7/2026).
Pemulangan tersebut merupakan tindak lanjut atas pemberitahuan resmi dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuwait. Dari Kuwait, jenazah diterbangkan menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, kemudian melanjutkan perjalanan ke Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang sebelum dibawa ke Musi Rawas.
Bagi keluarga, perjalanan ribuan kilometer itu bukan sekadar perpindahan dari satu negara ke negara lain. Itu adalah perjalanan pulang seorang ibu yang selama bertahun-tahun mengorbankan waktu bersama keluarga demi mencari nafkah di negeri orang.
Setibanya di Palembang, petugas BP3MI Sumatera Selatan segera menyelesaikan proses administrasi di terminal kargo bandara. Setelah seluruh prosedur rampung, jenazah dikawal menuju rumah duka hingga diterima langsung oleh keluarga.
Prosesi penyerahan berlangsung dalam suasana penuh haru. Putra almarhumah, Edwin Faisal, menerima jenazah ibunya disaksikan perwakilan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Musi Rawas dan Pemerintah Desa Marga Puspita.
Kehadiran berbagai unsur pemerintah menjadi bagian dari upaya memastikan pelindungan terhadap pekerja migran Indonesia tidak berhenti ketika mereka bekerja di luar negeri, tetapi juga ketika mereka kembali ke tanah air.
Kepala BP3MI Sumatera Selatan, Waydinsyah mengatakan, setiap pekerja migran Indonesia berangkat dengan membawa harapan untuk keluarganya. Karena itu, ketika musibah terjadi, negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan mereka kembali dengan penghormatan yang layak.
“Setiap pekerja migran Indonesia adalah anak bangsa yang mengabdikan tenaga dan waktunya demi keluarga serta turut berkontribusi bagi negara. Ketika mereka berpulang di negeri orang, negara tidak boleh absen. Sudah tugas kami memastikan mereka kembali ke tanah air dengan penghormatan yang layak dan keluarga tidak menghadapi duka ini sendirian,” ujar Waydinsyah.
Ia menambahkan, proses pemulangan Nursiti dapat terlaksana berkat sinergi antara KBRI Kuwait, BP3MI Sumatera Selatan, pemerintah daerah, serta berbagai pihak yang terlibat sejak awal hingga jenazah tiba di kampung halaman.
“Kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhumah. Semoga almarhumah memperoleh tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan serta ketabahan. Kehadiran negara dalam situasi seperti ini merupakan bentuk penghormatan kepada setiap pekerja migran Indonesia yang telah mengabdikan dirinya di negeri orang,” katanya.
Di rumah duka, suasana masih dipenuhi kesedihan. Keluarga menyampaikan terima kasih kepada BP3MI Sumatera Selatan, KBRI Kuwait, pemerintah daerah, dan seluruh pihak yang telah mendampingi proses pemulangan hingga Nursiti kembali ke tanah kelahirannya.
Waydinsyah bilang, kisah Nursiti menjadi pengingat bahwa di balik setiap pekerja migran Indonesia yang meninggalkan rumah untuk mencari penghidupan, selalu ada keluarga yang setia menunggu mereka pulang. Tidak semua kepulangan berakhir dengan senyum dan pelukan. Ada pula yang kembali dalam keheningan, meninggalkan kenangan, pengorbanan, serta jejak cinta yang telah dipersembahkan selama bertahun-tahun demi orang-orang yang mereka sayangi.
“Dalam perjalanan terakhir itu, negara hadir memastikan bahwa pengabdian seorang pekerja migran tidak berakhir begitu saja. Sebab, penghormatan kepada mereka tidak hanya diberikan ketika bekerja di negeri orang, tetapi juga ketika mereka pulang untuk selamanya,” tutupnya. ** (Humas/BP3MI Sumatera Selatan)