KP2MI Perkuat Peran Migrant Center Perguruan Tinggi dalam Program SMK Go Global
-
Wamen P2MI, Dzulfikar Ahmad Tawalla, rapat persiapan Migrant Center bersama rektor dan perwakilan perguruan tinggi secara daring, Jumat (28/8/2026).
Jakarta, KP2MI (29/8) - Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) memperkuat peran Migrant Center di berbagai perguruan tinggi sebagai penyelenggara Program SMK Go Global. Penguatan tersebut dibahas dalam rapat persiapan Migrant Center sebagai penyelenggara Program SMK Go Global yang dilaksanakan secara daring, Jumat (28/8/2026).
Rapat dipimpin oleh Wakil Menteri P2MI Dzulfikar Ahmad Tawalla, dan dihadiri Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri Dwi Setiawan Susanto, Direktur Pembinaan Kelembagaan Vokasi Pekerja Migran Indonesia Abri Danar Prabawa, Kepala Biro Keuangan dan Umum Indra Hardiansyah, serta para rektor/perwakilan perguruan tinggi yang memiliki Migrant Center.
Wamen Dzulfikar Ahmad menyampaikan bahwa penguatan Migrant Center merupakan bagian dari akselerasi arahan Presiden Prabowo Subianto dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja global.
Program SMK Go Global memiliki target lima tahun sebanyak 500.000 orang, dengan target piloting pada 2026 sekitar 40.000 orang. Pada batch pertama, pendaftar telah mencapai sekitar 14.000 orang, melalui tahapan seleksi administrasi, tes tertulis, dan wawancara. Sekitar 3.000 peserta telah siap memasuki proses penempatan/SIP2MI.
“Kita ingin memastikan bahwa peserta yang dilatih benar-benar menjadi right talent, mendapatkan right training, masuk ke right market, didukung right partner, dan mendapatkan right protection, menjadi arah utama dalam pengembangan Program SMK Go Global," ujar Dzulfikar
Konsep tersebut menempatkan kualitas peserta, ketepatan kurikulum, kesesuaian pelatihan dengan kebutuhan negara tujuan, keterlibatan mitra penempatan, serta pelindungan pekerja migran sebagai satu kesatuan dalam proses penyiapan hingga penempatan Pekerja Migran Indonesia. Pelatihan juga diarahkan bersifat intensif dan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 2–3 bulan, khususnya bagi peserta yang telah memiliki kemampuan dasar dan bahasa.
Migrant Center Didorong Terhubung dengan Pasar Kerja Global
KP2MI mendorong setiap Migrant Center untuk tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelatihan, tetapi juga membangun jejaring langsung dengan pengguna tenaga kerja atau end user di luar negeri.
Sejumlah Migrant Center telah memiliki pengalaman dan jejaring internasional. Universitas Nasional Pasim, misalnya, telah memiliki jaringan dengan Jepang, Jerman, Korea, dan negara lainnya serta menyelenggarakan International Job Fair yang melibatkan sekitar 40 LPK/P3MI. Sementara Universitas Muhammadiyah Surabaya memiliki pengalaman kerja sama dengan Taiwan dan menyiapkan kelas kesehatan, konstruksi, serta operator.
Universitas Citra Bangsa juga telah memiliki pengalaman penempatan mahasiswa/alumni ke Jepang dan saat ini menyiapkan peserta untuk bekerja di Jepang. Migrant Center tersebut diarahkan untuk terus dikembangkan sebagai pusat pengembangan SDM pekerja migran di Nusa Tenggara Timur sekaligus berkontribusi mengurangi penempatan pekerja migran secara tidak prosedural.
Wakil Menteri Dzulfikar menegaskan bahwa Migrant Center harus mampu menjadi instrumen perguruan tinggi dalam membuka pilihan karier global bagi mahasiswa dan alumni, termasuk melalui kesempatan bekerja di luar negeri secara prosedural, aman, dan terlindungi.
Perkuat Pelatihan Berbasis Kebutuhan Industri
Dalam rapat tersebut, KP2MI juga menekankan pentingnya pelatihan yang disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan dan kebutuhan pengguna. Untuk pelatihan welding, misalnya, rasio peralatan dengan peserta harus proporsional. Sementara untuk bidang hospitality, jumlah peserta dapat disesuaikan dengan karakteristik pelatihan.
Monitoring di tengah pelatihan akan dilakukan untuk memastikan kompetensi peserta sesuai kebutuhan, dengan keluaran akhir berupa uji kompetensi, sertifikasi, serta wawancara atau uji kompetensi oleh user.
Untuk sektor kesehatan, KP2MI juga mendorong agar proses ujian atau sertifikasi Prometric dapat dilakukan di Indonesia. KP2MI telah melakukan komunikasi dengan sejumlah grup rumah sakit besar di Arab Saudi, dengan harapan skema tersebut dapat memberikan kepastian bagi calon tenaga kesehatan Indonesia menuju pasar kerja Timur Tengah.
Tiga Skema Pelaksanaan dan Penguatan Administrasi
Dalam aspek pelaksanaan, Program SMK Go Global melalui Migrant Center akan menggunakan beberapa mekanisme, yaitu Swakelola Tipe II untuk perguruan tinggi negeri, Swakelola Tipe III untuk perguruan tinggi swasta, serta E-Katalog untuk kerja sama dengan lembaga atau pihak swasta sesuai ketentuan yang berlaku.
KP2MI juga akan memperkuat pendampingan administrasi dan koordinasi melalui penunjukan Person in Charge (PIC)pada masing-masing Migrant Center. PIC akan menjadi penghubung antara Migrant Center dengan tim pusat dalam penyampaian dokumen, koordinasi administrasi, pelaporan, dokumentasi, serta tindak lanjut pelaksanaan program.
Menuju Ekosistem SDM Global
Dzulfikar menegaskan bahwa program Migrant Center di perguruan tinggi memiliki potensi besar untuk mempercepat peningkatan kualitas dan daya saing calon Pekerja Migran Indonesia.
Migrant Center diharapkan tidak berhenti pada penyelenggaraan pelatihan, tetapi berkembang menjadi bagian dari ekosistem penyiapan SDM global yang menghubungkan pendidikan, pelatihan, sertifikasi, kebutuhan industri luar negeri, penempatan, hingga pelindungan Pekerja Migran Indonesia secara terintegrasi.
Selanjutnya, KP2MI melalui direktorat terkait akan melakukan pengawalan dan pendampingan terhadap Migrant Center dalam pelaksanaan Batch 1, termasuk proses pelatihan, sertifikasi, monitoring, evaluasi, hingga persiapan penempatan.
Masing-masing Migrant Center juga diminta segera menyelesaikan kesiapan teknis dan administratif, memperkuat jejaring dengan user/end user luar negeri, serta menyampaikan perkembangan program secara berkala, termasuk jumlah peserta, kelas, skema pelatihan, progres sertifikasi, job order, dan rencana penempatan.
Dengan penguatan tersebut, Program SMK Go Global diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi dan sertifikasi, tetapi juga siap ditempatkan secara prosedural, aman, dan terlindungi, sekaligus memberikan dampak nyata bagi mahasiswa, alumni, dan masyarakat di sekitar perguruan tinggi.*