BP3MI D.I. Yogyakarta Dampingi Tim Setwapres Serap Aspirasi Pemberdayaan Ekonomi Purna Pekerja Migran Indonesia
-
BP3MI D.I. Yogyakarta Dampingi Tim Setwapres Serap Aspirasi Pemberdayaan Ekonomi Purna Pekerja Migran Indonesia
Sleman, KP2MI (20/7) – Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) D.I. Yogyakarta mendampingi Tim Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia dalam kegiatan penyerapan aspirasi, monitoring, dan evaluasi terkait pemberdayaan ekonomi purna Pekerja Migran Indonesia di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (15/7/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Sekretariat Wakil Presiden untuk memperoleh data dan informasi mengenai kebijakan, program, serta berbagai praktik baik pemberdayaan ekonomi dan sosial purna Pekerja Migran Indonesia guna memperkuat reintegrasi sosial-ekonomi setelah kembali ke Indonesia.
Tim Sekretariat Wakil Presiden yang melaksanakan kegiatan terdiri atas Titin Lilis Surinda dan Linda Astuti selaku Analis Kebijakan Ahli Madya pada Asisten Deputi Pemberdayaan Masyarakat dan Pelaku Bisnis (Asdep PMPB), serta Yunida Zakia dan Anisa Sane selaku Analis Kebijakan Ahli Muda pada Asdep PMPB.
Fokus kegiatan diarahkan pada penguatan ekosistem pelindungan purna Pekerja Migran Indonesia melalui pengembangan kewirausahaan, peningkatan akses pembiayaan, perluasan akses pasar, penciptaan peluang kerja di dalam negeri sesuai kompetensi dan pengalaman yang dimiliki, serta penguatan pendampingan psikososial bagi purna Pekerja Migran Indonesia beserta keluarganya. Hasil penyerapan aspirasi ini akan menjadi bahan analisis dan rekomendasi kebijakan di lingkungan Sekretariat Wakil Presiden sekaligus bahan laporan kepada Wakil Presiden Republik Indonesia.
Dalam kegiatan tersebut, Tim Sekretariat Wakil Presiden didampingi Kepala BP3MI D.I. Yogyakarta Muhammad Ilyas Prakananda beserta jajaran BP3MI D.I. Yogyakarta. Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Jempol Food, usaha milik Bambang Sutrisno, purna Pekerja Migran Indonesia yang pernah bekerja di Korea Selatan. Tim berdialog dengan pelaku usaha sekaligus meninjau proses produksi berbagai olahan pangan, seperti kulit pangsit, dimsum, dan sekitar 15 jenis produk lainnya. Pembahasan difokuskan pada proses pengembangan usaha setelah kembali ke Indonesia, tantangan yang dihadapi, serta dukungan yang dibutuhkan agar usaha terus berkembang dan mampu membuka lapangan kerja.
Kunjungan kemudian dilanjutkan ke Perkebunan Melon Pratama milik Slamet Rifa'i, purna Pekerja Migran Indonesia yang pernah bekerja di Jepang. Tim bersama BP3MI D.I. Yogyakarta meninjau secara langsung budidaya melon yang telah dikembangkan selama kurang lebih delapan bulan menggunakan sistem greenhouse. Dalam diskusi, Rifa'i menjelaskan proses pembangunan greenhouse, teknik budidaya dan pemeliharaan tanaman, hingga strategi pemasaran hasil panen. Selain dipasarkan melalui konsep wisata petik dan wisata edukasi, hasil panen melon juga telah diminati sejumlah mitra usaha.
Rifa'i mengungkapkan bahwa salah satu hotel di Yogyakarta telah mengajukan permintaan pasokan melon sebanyak 80 kilogram per hari. Namun, permintaan tersebut belum dapat dipenuhi karena keterbatasan kapasitas produksi dari lahan yang dimiliki saat ini. Ia berharap dapat memperluas area budidaya sehingga mampu meningkatkan produksi dan memenuhi kebutuhan pasar.
Selama rangkaian kegiatan, tim menyerap berbagai masukan, pengalaman, dan harapan dari para pelaku usaha purna Pekerja Migran Indonesia. Sebelumnya, tim juga mengunjungi kawasan wisata Gunung Api Purba dan berdialog dengan purna Pekerja Migran Indonesia Mursidi dan Triyana bersama pemerintah kalurahan setempat untuk memperoleh gambaran mengenai pemberdayaan ekonomi purna Pekerja Migran Indonesia di tingkat desa. Berbagai aspirasi yang dihimpun diharapkan dapat menjadi masukan dalam penyusunan rekomendasi kebijakan yang mendukung penguatan ekosistem pemberdayaan purna Pekerja Migran Indonesia secara berkelanjutan.
Kepala BP3MI D.I. Yogyakarta, Muhammad Ilyas Prakananda, menyampaikan bahwa keberhasilan purna Pekerja Migran Indonesia membangun usaha produktif menjadi bukti bahwa pengalaman bekerja di luar negeri dapat menjadi modal penting dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga maupun masyarakat apabila didukung melalui pembinaan yang berkelanjutan.
"Pekerja Migran Indonesia yang telah kembali ke tanah air tidak hanya membutuhkan pelindungan pada masa penempatan, tetapi juga pendampingan setelah kembali agar mampu membangun usaha yang produktif dan mandiri. Kehadiran Tim Sekretariat Wakil Presiden menjadi momentum penting untuk menyerap langsung aspirasi para purna Pekerja Migran Indonesia sehingga kebijakan yang disusun benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan. BP3MI D.I. Yogyakarta siap terus bersinergi dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan dalam memperkuat pemberdayaan ekonomi purna Pekerja Migran Indonesia sebagai bagian dari pelindungan menyeluruh bagi Pekerja Migran Indonesia," ujar Ilyas.
Melalui kegiatan ini, berbagai praktik baik pemberdayaan ekonomi purna Pekerja Migran Indonesia di Daerah Istimewa Yogyakarta diharapkan dapat menjadi referensi dalam penyusunan kebijakan nasional yang memperkuat reintegrasi sosial-ekonomi, mendorong pengembangan kewirausahaan, serta memperluas kesempatan usaha bagi purna Pekerja Migran Indonesia. *(Humas/BP3MI Daerah Istimewa Yogyakarta)